Rabu, 02 Januari 2013

KEPRIBADIAN KHUSUS


BEBERAPA KEPRIBADIAN KHUSUS
(Peserta Anda Mungkin Berada di Antaranya)


KOMPULSIF DAN IMPULSIF

Kompulsif

Adi merasa perlu melakukan segala sesuatu dengan cara tertentu setepat mungkin. Orang sering menganggap dia bersikap kaku, karena berpegang teguh pada kegiatan rutin yang ditetapkannya. Baran-barang miliknya selalu diatur rapi dan ia juga mengatur waktunya dengan cermat sekali. Seringkali ia mengetahui dengan pasti dan rinci apa yang akan dilakukannya setiap hari jauh-jauh hari sebelumnya. Dibandingkan dengan orang lain. Adi memerlukan waktu yang lebih lama untu melaksanakan tugas-tugasnya karena hal-hal kecilpun diperhatikannya untuk menjamin bahwa ia bekerja dengan seksama. Tidak mudah bagi Adi untuk melepaskan atau melupakan sesuatu dan kemudian pergi bersenang-senang. Ia merasa tidak tentram dengan keadaan yang tidak teratur rapi. Berbagai hal yang menyelesa kesibukan dan orang-orang yang salah meletakkan barang-barang, sangat mengganggunya. Adi mempunyai perasaan bersalah yang tidak dapat diatasinya. Ia tidak dapat merasa “benar” kecuali bila secara terus menerus ia membuktikan harga dirinya dengan bekerja keras dan produktif serta memberikan pelayanan kasih.
Adi akan merasa lebih tentram dengan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan tidak menonjolkan diri. Ia merasa tidak tentram dengan keadaan yang tidak teratur dan tertata rapi. Ia orang yang tepat untuk mengurus keuangan dan akuntansi. Demikian pula dalam penyusunan rencana dan tugas serta berbagai jadwal pekerjaan yang membutuhkan perhatian penuh dan kesabaran tinggi. Adi akan melakukannya dengan baik.
Tapi perlu diingat, jangan sampai menekannya, karena sesungguhnya ia telah merasa cukup tertekan, bila ia menunda pekerjaan karena ia merasa usahanya belum cukup baik. Kita harus memberi perhatian dan ucapan terima kasih kepadanya atas keberhasilan yang dicapainya selama ini. Jangan sampai dibiarkan Adi tinggal sendiri untuk “menyelesaikan pekerjaannya” sementara semua orang meninggalkan pekerjaannya. Kita undang dia menemui kita, dan katakan kepadanya bahwa kita ingin menemaninya, kita harus bersikap ceria, jangan cemberut karena dia akan penuh tanda tanya (bertanya-tanya), terbuka dan ramah terhadapnya, terutama bila pekerjaannya tidak terlalu produktif (tidak berhasil dengan baik). Kita harus berusaha agar tidak menolaknya, karena akan memperberat keraguan akan dirinya.

Impulsif

Sari dalam banyak hal justru sebaliknya. Ia selalu bekerja dengan desakan waktu. Bila timbul sesuatu ide dalam pikirannya. Ia akan langsung melaksanakannya tanpa memikirkannya dengan baik. Sari tidak pernah membuat rencana sebelumnya. Dan sering tampak kurang memperhatikan kewajiban dan komitmennya. Ia dapat meninggalkan setengah selesai bila tiba-tiba muncul ide lain. Sering kali Sari mendapat ide (insight) yang baik, dan menemukan jalan keluar yang kreatif dalam situasi yang genting. Ia juga dapat bersikap menyenangkan, dan membawa kelegaan dalam menghadapi masalah-masalah yang berat. Sari membutuhkan mekanisme kerja yang sangat berbeda dari Eva. Sebaliknya ia tidak diberi tanggung jawab atas suatu tugas yang mungkin dapat mengacau segalanya, bila ia tidak berhasil mengerjakannya, ia harus diberi batas waktu untuk menentukan pilihan, guna meyelesaikan suatu pekerjaan,mendahului batas waktu yang sebenarnya. Harus diberitahukan kepadanya ketidakpuasan kita secara terbuka. Bila ia tidak menepati batas waktunya. Ia perlu mengetahui, bahwa ia akan merepotkan orang lain. Tentu saja, harus diusahakan agar kita memusatkan perhatian pada masalah yang sedang dihadapi, sebaliknya kita tidak mengungkit masa lalu atau kesalahan di masa lampau, karena dia sangat perasa. Bila perlu memberikan kesempatan mengajukan usul secara terbuka, kita minta Sari mengajukan usulnya sebanyak mungkin. Bila kita merasa sulit untuk bersikap santai, kita coba mempertimbangkan usul-usulnya yang spontan : “bagaimana kalau kita ke pantai sekarang ?”. Pada hakikatnya Sari perlu belajar mengetahui kapan pola sikap implusif itu menimbulkan masalah, dan kapan sebaliknya bermanfaat untuk menikmati keceriaan hidup.


MENGUASAI DAN MENYERAH PADA SITUASI


Menguasai Situasi

Wini merasa dirinya tidak aman bila tidak dapat menguasai situasi. Ia ingin berkuasa bila ada kesempatan dan akan bertindak dengan keras. Orang lain harus memperhatikan apa yang dikehendakinya, bila ia menginginkan demikian. Setiap masalah mempunyai arti yang sangat penting baginya. Ia menjadi tak sabar bila orang lain tidak mau “bekerja sama” dengannya. Ia akan memakai berbagai taktik seperti mengejek, marah, bersikeras dan sebagainya, agar orang mau berpihak kepadanya. Pada hakikatnya Wini memaksa orang lain agar setuju dengannya, karena ia tidak mengetahui cara orang lain untuk berkomunikasi dengan mereka.
Cara terbaik untuk menghadapi Wini adalah menunjukkan kepadanya bahwa dua orang dapat menyumbangkan pikiran dan tenaga lebih banyak dari pada satu orang. Kita hindari perselisihan terbuka dengannya. Jangan sampai membuatnya terdesak atau kehilangan muka, bila bersikeras untuk memaksa, tanggapi dengan pasif sehingga ia menjadi jemu sendiri. Dengan cara yang tidak menyolok, catatlah hal-hal baik yang diusulkannya, demikian pula titik-titik kelemahan usulnya, sehingga kita terpaksa menolaknya. Jangan memberikan alasan yang panjang lebar kepadanya. Kita katakan bahwa kita telah memahaminya dan iapun boleh bertanya apa saja untuk membuktikan bahwa kita telah memahaminya. Kuncinya adalah bersikap tenang, tetap pada pendirian dan bersikap mendukung walaupun kita menolaknya.

Menyerah pada Situasi

Mimi selalu setuju dengan usul apapun, karena merasa takut ditolak ia akan mengatakan apa yang diduga ingin di dengar orang lain. Ia tidak berani mengungkapkan pendapat yang berlawanan, karena takut terjadi konflik. Sayang sekali, ia tidak dapat menguasai lidahnya. Ia mudah berjanji, menyetujui banyak usul dan memaksakan dirinya untukmelakukan hal-hal yang tidak dapat dijaminnya. Adakalanya ia meraka kurang enak dengan sekian banyak janji yang telah dibuatnya.
Mimi perlu dorongan agar bersikap lebih jujur. Sebaliknya kita tidak mudah menerima perkataan “ya” darinya. Diusahakan agar ia menjelaskan gagasannya, terutama gagasan yang berbeda dari pendapat orang lain, minta kepadanya agar ia memberikan penilaian atas usul-usul yang sedang diajukan, jangan membiarkannya tidak memberikan tanggapan. Kemudian kemukakan rasa kagum terhadap sikap keterbukaan dan masukkannya yang baik. Bila ia membuat suatu komitmen, sepakati suatu jadwal waktu dan perincian tentang apa yang telah disepakati, hargai pikiran dan tindakannya yang mandiri dan usahakan agar komitmen tersebut tetap dilaksanakannya dan jangan merasa terikat dengan sikapnya yang ramah tamah.


PRAKTIS DAN ROMANTIS


Praktis

Utami merasa bangga akan dirinya karena bersifat praktis. Ia perlu mengetahui hasil dan imbalan dari suatu tindakan, sebelum berjanji akan melakukannya ia akan mengandalkan impuls yang timbul dan mempertimbangkan segala sesuatunya berulang kali. Secara sadar ia mengesampingkan perasaannya, karena ia selalu menganalisis situasi untuk memperkirakan hasilnya. Utami tidak memperoleh kepuasan karena keterlibatan emosional semata-mata dan ia menilai hubungan antar sesama hanya dalam ukuran hasil yang dicapai. Yang utama baginya ia menghindari dirinya disakiti atau dikecewakan.
Agak sukar berhadapan dengan Utami, karena ia tidak mudah dipercaya. Harus kita sadari bahwa ia sangat peka dan kita mesti bersikap benar-benar dapat dipercaya terhadapnya. Mengubah rencana yang telah kita kemukakan atau membatalkan suatu komitmen membuatnya semakin tegas melindungi dirinya terhadap ketidaktegasan orang lain.

Romantis

Karlina juga terus-menerus dikecewakan orang, akan tetapi ia mudah sekali tertarik pada orang lain dan menganggap semua hal yang baru dan menarik sebagai “penemuan” yang paling hebat dalam hidupnya. Ia sangat dipengaruhi oleh perasaannya sendiri, sehingga hanya melihat hal-hal yang baik pada diri orang lain. Dan ia tidak mau mengakui adanya ketegangan dalam hubungan dengan orang lain. Karlina seorang yang sabar, ramah dan tidak pernah mengingkari janjinya. Walaupun diperlakukan kurang baik ia tetap siap sedia untuk menghadapi perlakuan selanjutnya.
Karlina juga terkadang sulit dimengerti perilakunya, bila tertarik pada kita, jangan biarkan ia menderita untuk kita, jangan manfaatkan kesediannya. Bila kita merasa segan karena tidak tertarik kepadanya seperti ia tertarik pada kita, sebaiknya katakan hal itu padanya, agar ia mengetahui perasaan kita dan bahwa kita merasa perlu mendiskusikan batas-batas hubungan kita dengannya.


SUKA MENYERANG DAN MENUTUP DIRI


Suka Menyerang

Dian sering melampiaskan kemarahannya terhadap orang lain, bila dengan bersungut-sungut orang lain tidakmerasa diserang, maka ia akan mengusahakan taktik lain. Kata-katanya yang tajam sering menyakitkan dan membuat orang bingung. Adakalanya serangan langsung yang dilontarkannya mencapai sasaran tertentu dan adakalanya pula tampaknya ia ingin menyerang setiap orang. Jarang sekali ia membicarakan kebaikan orang lain, ia sangat peka terhadap kekurangan orang lain dan membicarakannya kepada siapa saja yang mau mendengarkannya, ia selalu mengajak orang bertengkar dan tampaknya sering marah-marah sehingga tidak memberi kesempatan untuk hal lain, orang biasanya merasa tidak tentram bila bersamanya.
Bila Dian ingin mengintimidadi kita, kita jangan menjadi orang yang mudah dipengaruhinya, ia harus dihadapi dengan ketenangan, penuh sopan santun, keberanian dan ketegasan. Kita tunjukkan rasa simpati terhadap perasaan-perasaannya yang kurang menyenangkan, tanpa menyalahkan diri kita atau orang lain, tanggapi keluhan-keluhannya, kemudian desak agar ia mau mendiskusikan penyelesaiannya, tidak perlu mendengarkan keluhan tentang perilaku orang lain, sebaiknya kita hanya mendengarkan keluhannya tentang masalah tertentu.
Bila Dian menetang pendapat kita, tidak perlu membalasnya, tetapi katakan secara pribadi bahwa kita tidak menyenangi perilakunya tersebut. Adakalanya kita dapat mengatakan kepada orang seperti Dian : “kata-kata anda tampaknya menyakiti hati saya”.

Suka Menutupi Diri

               Sebaliknya Arlin suka menutup diri, menyimpan perasaannya sendiri dan tidak mau mengungkapkan pikirannya kepada orang lain. Orang tidak dapat memahaminya ; karena batas-batas pertahannya sukar ditembus. Adakalanya ia tampak malu-malu dan segan mendekati orang dan adakalanya ia membisu karena marah.
Ia tidak mau membicarakan apa saja, tidak mau melibatkan diri dan seringkali sampai menjengkelkan orang lain, ia jarang sekali meminta sesuatu dan tampaknya hampir selalu diam tidak responsif.
Adakalanya orang seperti Arlin memerlukan dorongan untuk berbicara, teristimewa bila perasaan segan terhadap lingkungannya sangat tinggi. Kita usahakan untuk menampilkan kehadirannya dengan menanyakan pendapat dan pandangannya, kita tunggu dengan sabar suaru dan pendapatnya, pancinglah dengan persoalan-persoalan sederhana sampai menengah.
Adakalanya orang seperti Arlin bukan takut untuk bicara, tapi sebagai taktik, dia dapat membungkam dalam suatu kelompok sampai kelompok tersebut menaruh perhatian terhadapnya, bila demikian halnya kita usahakan agar kelompok tersebut tidak memberikan perhatian kepadanya.



PERASA DAN SIKAP ACUH


Perasa

Rudi sangat peka menghadapi kesulitannya sendiri dan orang lain. Ia cepat terbawa perasaan negatif, selalu merasa cemas dan sangat mudah terpengaruh oleh rasa bersalah dan malu. Adakalanya ia merasa seakan-akan beban seisi dunia menimpanya dan menganggap dirinya bertanggung jawab untuk memperbaiki hal-hal yang menurut pendapatnya salah.
Sebaiknya kita mengabaikan kesedihannya bila berada dalam kelompok, jika kita menanggapi perilaku demikian dengan penuh perhatian, ia akan terus bersikap demikian, kita berikan tanggapan positif, hanya bila berdua dengannya.

Sikap Acuh

Sebaliknya Farida mengesampingkan semua perasaan yang kurang baik (bersalah), tidak mau memberikan kesempatan kepada dirinya sendiri untuk merasa sedih atau sakit dan selalu memandang persoalan dari sisi yang positif, ia dapat mengobrol tanpa henti-hentinya dan berprilaku dramatis dan penuh semangat. Farida tidak dapat memandang wajah yang muram dan menekankan agar setiap orang selalu gembira. Ia tidak bersedia memberikan perhatian pada hal-hal berat, menutup dirinya terhadap persoalan dan tidak mau mengatasi persoalan tersebut, biasanya orang menyukai Farida karena ia pandai menyemarakkan suasana.


SUKA MENGURUS DAN TERGANTUNG


Suka Mengurus

Butet selalu mengurus sesuatu untuk orang lain, ia melihat banyak orang di sekitarnya sebagai tidak berdaya dan memerlukan perhatian dan bantuannya, ia menggunakan siasat pemberian santunan dan bantuan untuk menarik orang ke pihaknya, ia berusaha menjadikan dirinya demikian diperlukan dan menentukan, sehingga orang tidak dapat membayangkanbagaimana keadaan mereka tanpa kehadiran Butet. Dengan senang hati ia membantu orang lain, melindungi mereka serta mengarahkan hidup mereka, akan tetapi tidak semua kebaikannya itu cuma-cuma dan tanpa pamrih, yang jelas ia akan berusaha agar orang lain sangat tergantung kepadanya.
Pada hakekatnya orang akan sangat mudah memanfaatkan perilaku Butet, keinginannya untuk mengurus orang lain menjadikannya cendrung memenuhi hampir semua permintaan, akan tetapi kita perlu sangat berhati-hati dengannya, karena bila tidak demikian ia dapat merasa seakan-akan memiliki kita. Kita harus berusaha agar ada hubungan timbal balik dalam pergaulan dengannya, misalnya bila ia mentraktir kita pada kesempatan yang lalu, hendaknya kali ini kita yang mentraktirnya, segala budi baiknya hendaklah dibalas dengan seksama. Dalam kelompok sebaiknya kita tidak membiarkan ia bekerja keras sendiri, sekali-kali kita berikan kepadanya kejutan atau jasa baik yang tidak diharapakannya.

Suka Tergantung

Sebaliknya Tari adalah seorang yang selalu tergantung pada orang lain, bila menghadapi masalah ia langsung bertanya : “siapa yang dapat menolong saya untuk menyelesaikan masalah ini ?” , ia sangat berbakat untuk mengajak orang lain membantunya dengan bersikap seolah-olah ia tidak berdaya, ia membutuhkan bantuan orang lain dan serba kekurangan. Adakalanya ia menonjolkan kekurangannya sendiri untuk meyakinkan orang lain tentang kebutuhannya itu. Tari tidak memiliki kepribadian yang teguh dan merasa bahwa hidupnya akan kacau balau, bila tidak ada orang lain yang dapat dijadikannya pegangan. Saat ia menemui kesulitan untuk menemukan seseorang yang dapat bersamanya, maka ia akan mengeluh tentang kesepiannya, kesedihannya.

PSIKOLIGI KEPRIBADIAN


PSIKOLOGI KEPRIBADIAN


Tulisan yang terbatas ini hanya memuat beberapa pembahasan mengenai aspek-aspek kejiwaan dalam pribadi seseorang yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari atau dalam latihan-latihan, karena latihan yang kita laksanakan berhubungan dengan manusia sebagai objek dengan membawa berbagai karaktertipe kepribadian dan temperamen.

A.     Perasaan

Kerap kali kita melihat orang tampak gembira atau sedih. Gembira atau sedih ini adalah pernyataan-pernyataan perasaan. Perasaan itu menyatakan sesuatu tentang keadaan jiwa pada suatu saat. Ada rasa “suka dan tidak suka”.
Rasa suka adalah rasa yang menyenangkan : enak, ketenangan, keindahan, lezat, kebahagiaan dan sebagainya.  Rasa tidak suka adalah rasa yang tidak enak, tidak menyenangkan, dukacita, takut, khawatir, gelisah, kesedihan, kacau dan sebagainya.
Perasaan itu selalu bersifat perseorangan, selalu bersama-sama dengan gejala-gejala jiwa lainnya, seperti teringat sesuatu, frustasi, kecewa, bahagia dan lain lain. Perasaan biasanya menyatakan diri dengan tingkah laku dan dapat diselidiki dengan jalan ekstrospeksi dan introspeksi. Perasaan ada yang bersifat biologis dan rohaniyah. Perasaan biologis meliputi perasaan yang berhubungan dengan fungsi hidup jasmaniah (lapar, haus, letih, lesu dan lain-lain).
Perasaan rohaniyah meliputi ; perasaan intelek yang menyertai pekerjaan intelektual, perasaan estetis yang berhubungan dengan keindahan (termasuk hal-hal yang lucu), perasan etis yang berhubungan dengan perbuatan baik dan buruk, perasaan keagamaan yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa dimana kita ingat kepada Tuhan, perasan diri yang menyertai gambaran kita sendiri (positif dan negatif ; kompleks inferior/superior), perasaan sosial dalam hubungan kita dengan orang lain.

B.     Prasangka

Prasangka adalah predisposisi untuk memberikan penilaian yang diskriminatif terhadap pribadi atau kelompok tertentu. Menurut analisis transaksional, hal ini terjadi karena cara hidup yang kita peroleh dari pengalaman sejak kecil atau masa lalu menjadikan kita tidak dapat melihat keadaan sebenarnya dengan jelas.
Kita mempunyai harapan-harapan tertentu tentang orang lain –seringkali harapan yang bersifat negatif--, karena perbedaan jenis kelamin, suku bangsa, agama atau perbedaan kelompok. Harapan-harapan demikian seringkali tidak diajarkan terus terang pada kita, tetapi diangkat dari pengamatan kita terhadap prasangka mereka yang berpengaruh pada masa kecil kita.
Ketika saya melakukan/memimpin sebuah pelatihan (Up-grading), seorang peserta wanita meminta waktu untuk berbicara dengan saya pada hari ke 2. Ia kelihatan sangat kikuk dan mengatakan kepada saya, bahwa ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Saya memberikan dorongan dan akhirnya ia mengatakan “saya merasa sangat malu ! ketika pertama kali anda masuk ruangan untuk memberikan materi, saya agak jengkel”. “Bayangkan, ketika saya memutuskan untuk ikut acara ini, saya akan dipimpin oleh seorang yang pemarah”, “akan tetapi saya merasa tertipu oleh prasangka saya, dan kini harus saya katakan kepada anda, bahwa anda adalah orang yang ramah dan suka humor dan materi yang anda berikan sangat berguna bagi saya”, “saya sangat malu karena waktu itu langsung mengira bahwa saya akan “ketakutan” dan tidak akan mendapatkan materi yang berguna, karena anda terlihat seperti seorang yang galak”.
Peserta wanita tersebut telah mempunyai prasangka yang bukan-bukan, tapi ia tidak bersikeras dengan prasangkanya, sehingga ia masih dapat berubah pandangan. Sayang sekali pada beberapa kasus, ada orang yang demikian kuat prasangkanya, sehingga tidak dapat mengubahnya, karena prasangka dapat mendistorsi persepsi kita tentang realita, maka prasangka merupakan hambatan yang besar dalam komunikasikita dengan orang lain. Menyadari prasangka kita sendiri biasanya sulit, karena kita selalu yakin akan kebenaran prasangka itu.
Adakalanya prasangka mampu membuat seseorang yang kurang percaya diri merasa lebih baik. Prasangka dapat membuat orang memandang rendah orang lain. Sesungguhnya hal demikian justru mempersulit upaya mengenali dan menghilangkan prasangka. Orang yang sangat dikuasai prasangka biasanya selalu merasa tidak aman dan bersifat kaku.
Mereka selalu mencoba mengatasi keraguan dan ketakutan mereka dengan merendahkan orang lain, melemparkan kesalahan pada orang lain, dan menganut faham yang dogmatis. Menyadari sifatnya tersebut, membuat kita tidak mudah marah terhadapnya. Orang yang demikian tidak akan menjadi baik bila dihadapi dengan sikap yang keras dan menuntut ; sebaiknya, mereka membutuhkan rasa aman dan tenang, sebelum mampu menghilangkan sikapnya yang kurang baik.

C.     Delusi

Delusi merupakan keyakinan semu yang sesungguhnya tidak benar, dan tidak dapat dikoreksi dengan pikiran sehat. Terdapat perbedaan antara delusi dengan kekeliruan yang adakalanya kita lakukan dalam menanggapi fakta-fakta, karena delusi ditimbulkan oleh berbagai perasaan negatif. Timbul delusi bila perasaan yang kuat mewarnai persepsi kita tentang dunia, diri kita atau orang lain. Mungkin kita masih ingat bagaimana seseorang merasa bahwa orang-orang menilai dirinya secara negatif.
Delusi menyudutkan kita untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi. Kita bertindak berdasarkan persepsi salah yang membuat kita membayangkan respons negatif dari orang lain, karena itu mungkin sekali kita justru mendapat reaksi seperti yang dibayangkan sehingga menguatkan rasa takut kita.

D.    Atribusi

Kita semua mencoba memahami pengalaman-pengalaman kita, kemudian berupaya agar pengalaman-pengalaman tersebut bermakna, dan menafsirkannya. Atribusi, beberapa alasan yang kita gunakan untuk menerangkan pengalaman-pengalaman kita biasanya mengacu pada beberapa ciri khusus seseorang (dari kita sendiri dan orang lain) atau pada keadaan sekitarnya. Atribusi yang kita miliki membantu pembentukan khayalan kita yang terarah.
Tina mempunyai berat badan yang berlebihan. Ia takut orang tidak menyukainya, oleh karena itu ia menghindari pertemuan-pertemuan di masyarakat. Ia mengkambinghitamkan kegemukannya sebagai penyebab kesulitan-kesulitannya. Bila ia tidak mengurangi berat badannya, ia akan terus saja berkeyakinan bahwa semua masalah yang diambilnya dapat teratasi bila berat badannya turun.

E.     Disonansi Kognitif

Adakalanya pemahaman kita terganggu, sehingga menyulitkan kita. Kita juga merasakan disonansi kognitif bila sikap dan tingkah laku kita tidak serasi. Disonansi kognitif terjadi bila kehidupan psikologis kita tidak harmonis.
Eman adalah seorang perokok berat, ketika bermunculan himbauan-himbauan tentang bahaya merokok bagi kesehatan, ia selalu mengatakan akan berhenti merokok. Tetapi kenyataannya tidak, dan ia tidak lagi berbicara tentang rencana menghentikan kebiasaan tersebut. Tampaknya ia tetap menikmati kebiasaan merokoknya. Suatu saat bila ia didesak tentang hal itu, iapun mengatakan bahwa ia sesungguhnya tahu dan harus berhenti merokok, tapi hidupnya kini sangat tertekan, sehingga ia tidakdapat berhenti merokok sekarang ini.
Ini menunjukkan bagaimana terjadinya disonansi kognitif. Keadaan tersebut bagi kita sesungguhnya tidak enak. Bila terjadi disonansi, ada sesuatu yang harus dilepas, atau ada ketidaksesuaian antara suatu keyakinan dengan keyakinan-keyakinan atau sikap yang penting. Bersikeras mempertahankan kedua-duanya, akan terasa sangat menyiksa. Pikiran Eman yang pertama adalah berhenti merokok, tetapi ia tidak sanggup melakukannya. Kemudian ia mengabaikan peringatan tentang kesehatan (menganggap bahwa peringatan tersebut bukan ditujukan kepadanya) dan ia dapat terus merokok dengan santai. Ketika ia diberitahu untuk memperhatikan peringatan-peringatan ini, ia meyakinkan dirinya bahwa nanti ia akan berhenti merokok, ia menggunakan beberapa cara disonansi kognitif untuk mengatakan hal itu.
Dua cara lain untuk menghadapi disonansi adalah dengan reaksi “anggur yang masam” dan “Jeruk yang manis”. Kita mencoba meyakinkan diri bahwa sebenarnya kita tidak menginginkan apa yang tidak dapat kita peroleh, atau bahwa kita menyenangi sesuatu yang tidak kita kehendaki tetapi kita tidak dapat melepaskannya. Kita juga dapat mengatasinya dengan mengusahakan persesuaian pendapat tentang keyakinan tertentu yang penting untuk memperkuat keyakinan kita yang kurang kokoh.

F.      Gaya Interpersonal

Gaya interpersonal berkaitan dengan cara kita memperlakukan orang lain dan perlakuan orang lain terhadap diri kita sesuai dengan yang kita harapkan. Orang dewasa seperti halnya anak-anak, berbeda caranya berkomunikasi dengan orang lain. Ada orang yang hanya sedikit memberikan andil bagi orang lain, tetapi banyak sekali yang mengharapkan dari andil orang lain. Ada orang yang memanfaatkan kemarahan yang meluap-luap untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau membisu atau menarik diri bila keadaan dirasakannya tidak menyenangkan. Ada pula yang mencoba mempermainkan atau “memanfaatkan” orang lain dan adapula yang sangat menghargai orang lain dan memperlakukannya sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Seperti halnya gaya moral, kita mengikuti suatu cara tertentu dalam menuju kematangan hubungan pergaulan.

G.    Tahap Impulsif

Tina mempertimbangkan masalah-masalah moral hanya pada saat-saat ia menemui kesulitan. Tampaknya ia tidak mengerti bahwa orang membutuhkan peraturan-peraturan mengenai perilaku dalam kehidupan  bersama. Baginya, suatu perbuatan yang tercela hanyalah perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum, Tina hidup menurut impulsnya ; adakalanya ia mabuk-mabukan dan termasuk orang yang “bermurah hati” dalam kehidupan seksual.
Bila mengalami frustasi atau marah, Tina suka mengamuk. Ia memandang orang lain sebagai sumber masukan, dan menilai diri mereka dari seberapa banyak bantuan orang tersebut kepadanya. Dalam pandangannya yang terpusat pada diri sendiri itu, ia mengabaikan perasaan dan keinginan orang lain. Bila masalah interpersonal menjadi terlalu sulit, ia akan dengan serta merta melarikan diri dari keadaan, tidak berusaha memperbaiki dan mencarikan solusi dari permasalahan yang muncul tapi bahkan mengakhiri suatu hubungan interpersonal.
Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal"

Jumat, 30 Desember 2011

MAGNET UANG




Tahukah Anda bahwa bahasa yang kita gunakan sehari-hari, baik dalam tulisan, lisan, atau dalam cara kita berpikir, dapat memengaruhi kita untuk menjadi magnet uang?
Setidaknya, demikianlah menurut Marie-Claire Carlyle penulis buku berjudul How to Become A Magnet Money ini.Teorinya adalah pikiran, tubuh, dan jiwa pada hakikatnya terhubung. Pilihlah kata-kata yang dapat memberi perasaan positif. Maka, perasaan positif tersebut akan bertindak sebagai magnet, menarik alasan lebih banyak untuk merasakan hal positif.
Secara sederhana dapat dikatakan menjadi magnet uang berarti mencari kekayaan dalam diri guna menarik kekayaan dari luar. Prinsipnya kita adalah magnet, menarik apa pun yang kita pikirkan ke dalam hidup kita. Hal ini bukan omong kosong belaka, sains telah membuktikan bahwa kita adalah makhluk energik dan kita mampu menarik apa yang kita pikirkan. Hidup kita sendiri pada dasarnya merupakan refleksi atas pemikiran kita, baik pikiran sadar maupun bawah sadar.
Maka dengan demikian mengubah pemikiran berarti mengubah kehidupan kita (halaman 244). Teori magnet uang berdasarkan pada prinsip tarik-menarik (law attraction) adalah sebuah hukum semesta yang tidak dapat dihindari. Hukum ini menyatakan bahwa “suka akan menarik suka”. Jika kita marah, kita akan menarik lebih banyak lagi alasan untuk marah. Jika merasa kaya dan bersyukur atas segala yang kita miliki, kita akan mampu menarik lebih banyak alasan untuk merasa kaya dan bersyukur atas semua yang kita miliki.
Albert Einstein, seorang fisikawan terbesar yang pernah ada, menjelaskan fenomena ini melalui rumusan fisika kuantumnya yang terkenal; E=mc2, yang maknanya bahwa semua materi terdiri atas energi. Kursi, meja, tirai, pakaian, tubuh bahkan pikiran, semua terbuat dari energi. Semakin padat suatu objek, semakin rendah frekuensi energinya. Melalui energi, kita pada dasarnya terkait dengan segala sesuatu yang lain (halaman 39).
Kondisi keterkaitan ini membuka berbagai kemungkinan dan keajaiban. Jika kita mengirimkan getaran pada frekuensi tertentu, maka kita akan menarik koneksi yang sama. Jika benar-benar yakin bahwa segala sesuatu itu mungkin, mak a kita akan terhubung dengan berbagai kemungkinan. Saling keterkaitan sendiri artinya tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Luruskan pikiran untuk menarik lebih banyak uang maka akan menarik lebih banyak uang, demikian pula sebaliknya. Namun, dalam praktiknya hal tersebut tidaklah mudah karena tantangan terbesar bagi pikiran kita ada pada pikiran bawah sadar. Celakanya lagi, lebih dari 80 persen pemikiran kita berasal dari pikiran bawah sadar, sehingga kita mungkin akan membuat, tanpa sadar, suatu kenyataan yang dengan pikiran sadar tidak kita sukai.
Misalnya; kita ingin punya banyak uang (pikiran sadar) tapi kita tidak menyukai orang kaya (pikiran bawah sadar) karena telah tertanam pikiran bahwa “orang kaya itu jahat”.Sehingga pikiran bawah sadar kita menjauhkan diri kita dari kaya dan jahat. Banyak orang membuat pilihan ekstrem antara menjadi miskin dan religius atau kaya dan egois. Selain itu ada stigmatisasi terhadap “uang”yang seolah- olah dianggap kotor dan vulgar. Padahal, pendapat kita terhadap uang akan memengaruhi seberapa banyak kita menarik uang.
Semakin mensyukuri uang milik kita,maka akan semakin banyak uang yang bisa kita tarik. Jika ingin mengubah hasil, maka kita perlu mengubah pola pikir yang menciptakan hasil tersebut. Dengan mengubah pola pikir tentang uang, kita dapat mengubah diri kita menjadi magnet uang (halaman 128). Kendati demikian,yang harus dicatat adalah bahwa uang bukan segala-galanya. Sebenarnya uang sendiri tidaklah berharga.
Sangatlah pandir jika ada orang yang terdampar di pulau terpencil berharap untuk menjadi magnet uang. Bukankah uang pada dasarnya toh hanya alat tukar untuk sebuah nilai ? Maka agar benar-benar merasa kaya dalam setiap pengertian, optimalisasi nilai diri kita sendiri jauh lebih penting, sehingga pada akhirnya uang akan berdatangan dengan sendirinya. Atau dalam istilah karya peraih dua gelar bisnis dan konsultan fengsui ini, bekerjalah dengan prinsip focus (fokus), action (tindakan), dan belief(keyakinan).
Buku setebal 271 halaman ini ditulis dalam urutan yang teratur. Bagian pertama membahas tentang teori bagaimana menjadi magnet uang dan melihat kondisi keuangan pembaca saat ini. Bagian kedua akan melihat bagaimana pembaca dapat mulai menarik uang lebih banyak begitu mengikuti beberapa tahap dasar. Bagian ketiga meletakkan dasar menjadi magnet uang seumur hidup. Cara terbaik untuk membaca buku ini sesuai urutan buku ini ditulis. Dalam setiap bab yang dibahas, juga disertakan studi kasus berdasarkan kisah dan pengalaman nyata.

Minggu, 25 Desember 2011

QUANTUM IKHLAS

Teknologi Quantum Ikhlas tidak semata membantu anda memiliki harta yang anda inginkan. Ia juga tidak sekedar memudahkan anda mengerjakan hal-hal yang anda inginkan. Teknologi Quantum Ikhlas akan membantu anda menjadi orang yang berhak memiliki dan mengerjakan apa yang anda inginkan, dengan lebih mudah. (Erbe Sentanu)

Pertanyaan utama yang sering menjadi pertanyaan banyak orang adalah APAKAH sebenarnya “sukses” itu ? Apakah sebenarnya tujuan hidup yang kita cari ? Untuk apakah Allah menghadirkan kita di dunia ini ?

Everything is within you. Ask all from yourself…
Jalaluddin Rumi

Menyitir ungkapan Rumi di atas, buku ini hendak mengingatkan kembali fitrah kita sebagai manusia untuk kembali kepada kesejatiannya, untuk kembali kepada fitrahnya sebagai mahluk yang paling sempurna sebaik-baiknya ciptaan Allah. Suatu hal yang sering sekali kita lupakan dengan kecenderungan untuk lebih mengungkapkan semua keluhan dan kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan ini.

Pikiran-pikiran kita sering me”limitasi” / membatasi kita sehingga muncullah pertanyaan-pertanyaan di atas … APAKAH sebenarnya “sukses” itu? Mengapa rasanya sulit sekali meraih kesuksesan itu ? Sukses dalam hal bukan hanya karir dan finansial semata, tetapi juga termasuk keluarga yang harmonis, persahabatan, kesehatan, tingkat intelegensi, rasional, emosional, maupun kecerdasan spiritual.

Banyak cara untuk sukses dan bahagia. Dan, seperti banyak orang, kita juga senantiasa bekerja keras berusaha berubah agar bisa menikmati hidup yang lebih menyenangkan. Dalam buku ini, dengan filosofi yang disebutnya Quantum Ikhlas – karena dalam menerangkan konsep pemikirannya, mas Nunu mendasarkan penjelasannya dengan menggunakan prinsip-prinsip Fisika Quantum - kita hanya di’ingatkan’ saja proses yang sebenarnya sangat sederhana dalam mencapai kebahagiaan hakiki dan mencapai sukses hidup; pekerjaan, materi, dan relasi yang menyenangkan, secara ikhlas, yaitu dengan mengembalikan ‘kesadaran’ kita akan fitrah manusia sebagai makhluk yang sempurna. Fitrah manusia berada di zona ikhlas. Manusia yang sempurna adalah manusia yang hidup seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya -kecerdasan fisik (Physical Quotient), kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient), kecerdasan emosional (Emotional Quotient), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient).

Dalam Fisika Quantum, ditemukan bahwa dibalik semua yang ada di dunia (materi) sebenarnya hanyalah terdiri dari energi getaran (vibrasi) yang disebut dengan Quanta. Kesempurnaan manusia pada dasarnya merupakan rangkuman dari semua manifestasi quanta tersebut karena manusia memiliki sifat materi (dengan adanya tubuh fisik), dan sifat yang lebih tinggi dan agung (divine / Ilahiah) dalam jiwa dan ruh-nya yang mewujud di dalam alam pikiran dan perasaan manusia. Melalui kesadaran untuk manusia kembali kepada fitrahnya, yaitu kembali kepada sifat dan kecenderungan Ilahiahnya, maka manusia bergerak menuju suatu tingkatan kesadaran yang semakin tinggi dan pada akhirnya berada dalam posisi paralel / selaras dengan sumber materi yang lebih tinggi tersebut. Manakala keselarasan itu terjadi, hal yang ada dalam alam materi (dunia) bisa terwujud.

Dengan pemahaman bahwa semua yang ada dalam alam pikiran dan perasaan mengandung suatu energi quanta, maka bila proses yang terjadi dalam alam pikiran dan perasaan bisa ’disetel’ sehingga dilandasi dengan perasaan yang positif yaitu rasa damai, cinta, dan penerimaan serta keikhlasan, maka semua tujuan yang ingin dicapai dalam bentuk kesuksesan sebagaimana yang telah diulas di atas menjadi bagian yang menyatu dengan kehidupan kita..dan lalu menjadi otomatis kita terima.

Menurut Mas Nunu, ikhlas dalam hati manusia mewujud melalui perasaan-perasaan damai, sabar, mudah bersyukur, tawakal, dan menyerahkan urusan pada Tuhan ketika kita sudah berusaha maksimal. Dengan kata lain, tidak memaksakan kehidupan untuk selalu berjalan sesuai kehendak kita.

Bila pembaca sudah pernah menonton film atau membaca buku ”the Secret”, maka prinsip yang dikenal dengan ”Law of Attraction” dijelaskan dengan lebih menyentuh aspek religi sehingga menjadi konsep yang lebih mudah diterima untuk masyarakat Indonesia. Konsep dalam Law of Attraction : “Ask, Believe, Receive” dalam film/buku The Secret diulas dengan metode pendekatan “DOA” yang dikabulkan oleh Tuhan. Walaupun banyak mengambil referensi dari Al Quran, namun buku ini sangat cocok untuk dikonsumsi oleh semua kalangan.


Yang patut dicermati dalam penjabaran buku ini pendobrakan terhadap konsep ’Positive Thinking’ yang selama ini sering ditekankan dalam berbagai pelatihan self development dan pengembangan soft competencies lainnya. Ternyata ’Positive Thinking’ tidaklah berarti apa-apa karena semata-mata hanya mengandalkan kekuatan pikiran dan kekuatan diri sendiri. Buku ini jutru memperkenalkan pentingnya ’Positive Feeling’ yang digambarkan sebagai suatu perasaan yang sudah mencapai ’zona ikhlas’ melalui pengandalan kepada kekuatan diri dan juga kekuatan Ilahiah yaitu Tuhan. Dengan selalu menjaga kondisi perasaan pada zona ini, maka keselarasan vibrasi/ getaran (dianalogikan dengan gelombang /frekwensi radio) kita akan lebih mudah bersinggungan dengan energi yang lebih tinggi yang asalnya dari energi Ilahi sehingga kejadian-kejadian yang kita alami akan lebih sering dalam sinkronitas dan keterhubungan yang tidak terduga-duga yang menuntun kita untuk bisa mencapai hal-hal yang kita dambakan (baca : DOA-kan)

Diingatkan juga dalam buku ini jika kehendak hati tidak sinkron dengan kehendak pikiran, maka yang timbul adalah suatu kebingungan. Saat terjadi konflik, ketidaksinkronan pikiran akan selalu kalah dengan perasaan . Karena semua keinginan adalah bentuk keputusan sementara di kepala, sementara perasaan merupakan keputusan final di hati. Sebelum kita berhasil membuat hati setuju dengan pikiran maka selama itu pula, kita akan terombang ambing dalam ketidakberdayaan. Dengan kata lain, sebelum keyakinan antara pikiran, perasaan dan tindakan kita sinkron, selaras, atau harmonis, keberhasilan dan kebahagiaan akan sulit kita raih.


Selain pembahasan mengenai pikiran sadar dan pikiran bawah sadar, mas Nunu juga memasukkan penjelasan mengenai teknologi gelombang otak dan pengkategorisasian frekuensi gelombang otak sebagaimana juga sering dibahas dalam banyak buku motivasional lainnya. Ternyata kekhusyuan dalam doa yang sering dicari orang melalui berbagai aktivitas ’nyepi’ atau pun ’semedi’ adalah kondisi di saat gelombang otak berada dalam keadaan Alpha. Dan kondisi inilah yang merupakan pintu masuk untuk bisa melakukan pemrograman ulang dari hal-hal yang sudah ter’install’ di dalam pikiran bawah sadar kita. Dan secara teknologi memang terbukti bahwa ”tombol ikhlas” di otak kita berdenyut lebih keras manakala kita berada dalam kondisi Alpha.

Mencapai kondisi gelombang otak Alpha secara teknologi sudah dimungkinkan dan oleh karenanya buku ini dilengkapi dengan sebuah CD yang berisi musik dan suara yang sudah diinsersi dengan gelombang tertentu yang otomatis bisa menurunkan gelombang otak pendengarnya dari kondisi Beta ke kondisi Alpha. Melalui latihan yang intensif, maka secara otomatis kondisi fisik otak kita pun menjadi terlatih sehingga mengakses zona iklhas bisa menjadi lebih mudah dan otomatis.

Demikian inginnya mas Nunu menjelaskan secara ’rasional’ konsep keikhlasan maka memang buku ini seperti hendak ’menteknologikan’ hal-hal yang sifatnya sebenarnya spiritual agar menjadi lebih mudah dipahami dan di’pikir’kan oleh kita yang memang lebih sering terbentuk untuk menggunakan otak kiri yang lebih memproses hal-hal analitis ketimbang otak kanan kita. Akibatnya justru bagi pembaca pemula, mungkin beberapa bagian buku ini dirasa agak “berat” karena banyak menggunakan istilah-istilah bahasa teknis dalam menjabarkan konsep-konsep abstrak fisika kuantum.

Namun, agar buku ini relatif mudah untuk diserap dan dipahami mas Nunu berusaha mengimbangi “berat”-nya bahasa filosofis dengan memasukkan sebanyak mungkin analogi. Salah satunya, mengibaratkan otak pikiran dan perasaan manusia sebagai komputer yang memiliki hardware dan software sebagai mesin sistem navigasi hidup. Sistem yang harus senantiasa di-upgrade, dibersihkan dari virus-virus pikiran dan perasaan bawah sadar negatif yang membuat manusia merasa takut, cemas, ragu, sulit memaafkan, dan sebagainya.

Inti pesan buku ini sarat makna, inspiratif, dan praktis. Berusaha membuka hati siapa saja yang ingin mengubah kehidupannya dengan mengubah dirinya sendiri. Harapan sang penulis, Quantum Ikhlas adalah jawaban dan obat manjur bagi penyakit hati yang kini banyak melanda masyarakat Indonesia. Akhirnya, Mas Nunu mengajak kita semua, untuk menciptakan dunia yang sukses berdasarkan kekuatan hati yang ikhlas. Marilah kita berdoa agar setiap orang sukses dan bahagia dalam hidupnya. Mari kita ganti kompetisi dengan kerja sama. Mari kita ubah kegelisahan menjadi kedamaian. Kita ganti ketakutan dengan kasih sayang.

Dengan memanfaatkan segenap kekuatan fitrawi kita dan menyerahkan hasilnya pada Tuhan, biarlah Dia yang menjadi referensi utama kita. Dan kita semua tahu, tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan.

Jumat, 23 Desember 2011

KEBERKAHAN FINANSIAL


"Berapa pun penghasilan Anda saat ini, Anda bisa hidup sejahtera berkecukupan secara cepat. Jika Anda mau Take Action sekarang! Hanya dengan cara yang sederhana!"
Saya berani memberikan GARANSI 100% UANG KEMBALI, TANPA TANYA ALASAN ANDA. Bila Anda merasa informasi yang akan saya sampaikan ini tidak akan membantu sama sekali perubahan nasib Anda atau Anda merasa tidak mendapatkan manfaat apa pun dari informasi ini. 
Bapak, ibu, om, tante, adik, kakak dan rekan-rekan sekalian .....
Saat ini, Anda mungkin berada pada salah satu kondisi keuangan berikut ini:
- Punya penghasilan kecil sehingga tidak cukup, atau
- Punya penghasilan besar tapi juga tidak cukup, atau
- Tidak punya penghasilan, karena tidak memiliki bisnis maupun pekerjaan,
- atau masalah lainya....
Apapun kondisi keuangan Anda, saya yakin Anda sudah berusaha untuk mendapatkan uang dan kesejahteraan. Bahkan ada juga orang yang sudah berjuang habis-habisan, 'jungkir balik' membanting tulang untuk meraih kesejahteraan lahir batin. Tapi sayangnya bertahun-tahun berusaha, bertahun-tahun itu pula mereka merasa belum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mungkin mereka sudah mendapatkan banyak uang, namun kondisi keuangannya berantakan karena tidak cukup bahkan harus menanggung banyak hutang. Mungkin juga mereka sudah banyak uang, tapi waktunya ’tergadaikan', sehingga tidak bisa bersama keluarga dan anak-anaknya. Lebih ironis lagi, jika penghasilan pas-pasan dan tidak memiliki waktu untuk keluarga dan anak-anak.
Anda pasti menginginkan perubahan hidup menjadi lebih baik. Oleh karena itu, sampai membaca situs ini, bukanlah sebuah kebetulan. Anda sedang mencari suatu cara untuk mengubah kehidupan Anda. Saya yakin pula ini adalah cara Tuhan untuk mempertemukan kita agar bisa berbagi pengalaman dalam meraih kesejahteraan.


Setelah merasakan pahit getir dalam mengelola keuangan, dan setelah sekian lama mempelajari cara hidup sejahtera berkecukupan dari guru-guru keuangan terbaik dunia melalui buku-buku mereka maupun langsung mengikuti seminarnya, akhirnya saya menemukan KUNCI HIDUP BERKECUKUPAN. Ternyata, kunci sukses finansial itu tidak hanya terletak pada kerja keras yang kita lakukan. Kerja keras, berhemat, menabung, belajar bisnis, dan investasi, memang rumusan umum yang biasa kita praktekkan. Rumusan ini tidak salah, bahkan sangat benar! Tetapi rumusan umum itu hanya memberikan hasil yang biasa-biasa saja. Bahkan seringkali kita sulit memahami, mengapa uang yang sudah kita kumpulkan dengan cara itu, tiba-tiba harus keluar dan habis begitu saja dengan cara yang tidak disangka-sangka.
Sebagian besar orang selalu berpikir rasional dalam urusan rezeki. Padahal, urusan rezeki, jodoh dan mati adalah irasional, karena ketiga urusan itu diluar nalar manusia. Awalnya saya pun selalu berpikir demikian (rasional).
Dan hasilnya ....
Meski saya seorang bankir di bank BUMN (alhamdulillah, saya sudah pensiun dini dan buka usaha sendiri, baca profil diwww.safakmuhammad.com) dengan penghasilan yang cukup besar, tapi saya selalu kekurangan. Bahkan saya harus menanggung hutang ratusan juta rupiah, seakan tidak akan terlunasi dalam waktu dekat. Waktu itu saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Saya juga tidak mengerti mengapa setiap kali mencoba mencari penghasilan tambahan, baik dengan cara berinvestasi maupun bisnis selalu berakhir RUGI! Bahkan selama kurun waktu lima tahun antara 1999 – 2004, saya sudah mencoba empat kali investasi saham maupun kerjasama penanaman modal usaha, serta lima kali merintis bisnis.
Sembilan kali gagal, membuat saya harus berinstropeksi. Tapi satu hal yang sangat saya syukuri adalah SAYA TIDAK PERNAH MENYERAH! Saya justru merasa ini adalah proses belajar, meski ongkosnya SANGAT MAHAL. Kini saya semakin bersyukur, karena belajar dari kegagalan berinvestasi dan merintis bisnis itu ternyata merupakan modal utama saya dalam mengelola bisnis dan keuangan. Sebab saya sudah menemukan KUNCI 'pamungkas' untuk meraih kesejahteraan yakni spiritualitas dalam pengelolaan finansial. Spiritualitas ini sifatnya universal, karena pemeluk agama apa pun memiliki pemahaman yang sama terhadap spiritualitas yang saya maksudkan ini. Mereka sudah melaksanakan ini dengan baik, sehingga mereka sudah sukses secara finansial.
Jangan pernah berpikir kalau saya akan meminta Anda untuk melakukan wirid sekian ribu kali, bertapa di gua keramat, shalat sekian puluh rakaat, bakar kemeyan, baca jampi-jampi dan sebagainya.
Bukan.... bukan itu yang akan Anda lakukan!
Saya hanya akan menunjukkan sesuatu yang harus Anda lakukan dalam setiap aktivitas yang selama ini sudah Anda kerjakan. Misalnya kalau Anda sekarang ini menjadi pegawai, maka lakukan itu dengan menambahkan apa yang saya tunjukkan itu. Demikian juga, kalau Anda sebagai guru, bankir, internet marketer dan lainnya.


Selanjutnya, spiritualitas dalam pengelolaan keuangan itu saya jabarkan dalam 4 langkah:
1. Revolusi Mental dan Keyakinan
2. Memahami Rahasia Uang (secara spiritual)
3. Perencanaan Keuangan 1000 Tahun
4. Membuat uang 'beranak pinak'


Empat langkah itu saya tulis berdasarkan pada apa yang pernah saya alami, saya rasakan dan bagaimana saya memecahkan berbagai persoalan saat itu. Tentu saja, uraiannya juga didukung oleh berbagai pemikiran, pendapat serta pengalaman orang-orang yang sudah sukses secara finansial.
Alhamdulillah, kini kesejahteraan saya mulai menggembirakan. Saat ini saya merasa kehidupan ini benar-benar menyenangkan. Oleh karena itu saya ingin membagi pengalaman ini kepada sebanyak-banyaknya orang karena:

• Saya ingin semakin banyak orang Indonesia yang hidup berkecukupan.
•Saya tidak ingin pengalaman pahit yang pernah saya alami akan terulang pada Anda, sehingga Anda tidak perlu MEMBUANG WAKTU, TENAGA, BAHKAN UANG BANYAK untuk mencoba-coba (try and error) dalam mengelola keuangan dan melipatgandakan kekayaan.
. Saya yakin dengan berbagi pengalaman ini, saya akan mendapatkan banyak manfaat seperti ilmu serta pengalaman-pengalaman baru yang lebih baik.

Kini giliran Anda untuk mengubah hidup! 

Jumat, 16 Desember 2011

4 CARA KAYA

Keterampilan mengelola uang akan menentukan apakah seseorang sukses secara finansial dan menjadi kaya karenanya atau tidak. Meski begitu, keterampilan ini sangat bisa dipelajari dan membutuhkan konsistensi.
Valentino Dinsi, SE, MM, MBA, pendiri MuslimCOACH menyebutkan, hanya satu persen orang di dunia yang mengontrol 50 persen uang yang beredar, dan lima persen orang di dunia yang menguasai 90 persen uang beredar. Ini sama artinya dengan semakin banyak orang yang memperebutkan sedikit uang.

Lantas bagaimana sebagian kecil orang di dunia mengelola uangnya dan sukses finansial serta menjadi kaya karenanya?

1. Jangan bergantung pada satu sumber penghasilan
Menjadi kaya sama dengan bekerja lebih giat dan menarik uang lebih banyak. Bergantung pada satu sumber penghasilan takkan cukup menambah pendapatan. Jadi, caranya menjadi kaya adalah dengan mencari sumber pendapatan kedua atau ketiga. Anda bisa mencari tambahan penghasilan dengan keterampilan atau hobi yang dimiliki dan bisa dikerjakan dari rumah. Seperti menjadi penulis buku freelance dan mengerjakannya sepulang kantor. Atau keahlian lain yang berbeda dari pekerjaan Anda saat ini.

2. Akumulasi aset
Semakin banyak aset Anda, semakin besar nilai kekayaan Anda. Mulailah berinvestasi. Membeli tanah, bisnis franchise yang memudahkan dan laris di pasaran, atau bentuk investasi lain. Tentu saja Anda perlu menambah pengetahuan seputar investasi termasuk risikonya. Dengan mempelajari jenis dan risiko investasi, Anda bisa mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus mengakumulasi aset Anda.

3. Terapkan teori "compounding"
Seperti dikutip www.dowtheoryletters.com dalam buku Irwin Shaw bertajuk Rich Man, Poor Man disebutkan, compounding menjadi aturan pertama untuk menghasilkan uang dan menjadi jalan menuju kaya. Jalan ini mengandung makna, Anda harus gigih dalam berupaya menghasilkan uangAnda juga memerlukan kecerdasan untuk tetap menjalani pekerjaan (yang menghasilkanuang tersebut). Artinya Anda perlu memahami betul apa yang Anda lakukan dan mengapa Anda melakukan pekerjaan tersebut. Selain itu compounding juga bermakna Anda perlu memiliki pengetahuan matematika untuk dapat memperhitungkan penghasilan yang Anda miliki dan mengelolanya dengan tepat. Selain itu, sukses finansial membutuhkan waktu, dan bukan sukses instan yang hanya bertahan sementara.

4. Menjalani empat profesi ini
Valentino menyebutkan empat profesi orang terkaya di dunia adalah:
* Entrepreneur
* Pialang saham
* CEO/ Direktur Utama sebuah perusahaan.
* Staf penjualan door to door yang dibayar berdasarkan komisi hasil penjualan.

Jika disimak, daftar 10 orang terkaya di Indonesia menurut majalah Forbes (versi September 2008) adalah pengusaha. Sebut saja lima besarnya seperti Aburizal Bakrie dan keluarga (5,4 miliar dollar AS), Sukanto Tanoto dan keluarga mengelola Garuda Mas (4,7 miliar dollar AS), R. Budi Hartono (3,14 miliar dollar AS), Budi Hartono dan Michael Hartono, dua saudara kandung yang memiliki saham di perusahaan rokok Djarum dan BCA (3,08 miliar dollar AS), Eka Tjipta Widjaja dan keluarga pemilik Sinar Mas Group (2,8 miliar dollar AS), dan sederet penguasaha kaya lainnya.

Kamis, 15 Desember 2011

MEMPENGARUHI PIKIRAN ORANG




Apa Gelombang Otak dan Subjective Communication itu?

Anda pasti bertanya-tanya apa sesungguhnya yang terjadi ketika  Subjective Communicationdilakukan maka seseorang dapat mempengaruhi pikiran orang lain tanpa mereka menyadarinya?
Dari hasil penelitian, didapati bahwa mekanisme pikiran dapat dilatih.  Dan teknik atau cara melaksanakannya sangat mudah dan sederhana. 
Apa yang diperlukan di sini hanyalah anda harus bermeditasi dan fokus pada target anda pada saat mereka berada dalam “situasi alfa” (an alpha state). Dan waktu yang paling baik untuk kondisi ini adalah pada saat orang-orang masih dalam keadaan ngantuk atau setengah tidur di pagi hari atau subuh.


Apa yang dimaksud dengan keadaan alfa ini? 
Istilah ini adalah istilah yang dipakai oleh ilmuwan untuk menjelaskan level gelombang otak anda yang berada dalam keadaan bermeditasi, menghayal, setengah kantuk, atau kondisi pra-tidur.
Untuk jelasnya seperti ini. Menurut penelitian, otak manusia dibagi melalui beberapa gelombang otak pada saat tidur. Dan pikiran atau otak manusia bekerja pada 4 level, yakni level Beta, Alfa, Theta dan Delta, dan melalui berbagai siklus. 

Level Beta adalah level sadar penuh dan aktif di mana gelombang otak bergetar dengan kecepatan antara 14-30 siklus per detik.
Level Alfa adalah kondisi pikiran pada saat melakukan meditasi atau level setengah tidur dan mulai masuk dalam alam bawah sadar. Pada level ini gelombang otak bergetar dengan kecepatan antara 8-13 siklus per detik. Pada level ini sering terjadi mimpi atau hayalan dan pada level ini juga pikiran manusia dapat berkomunikasi dengan pikiran orang lain. Ingat pikiran alam bawah sadar berhubungan dengan alam semesta dan menjelajah. Itulah sebabnya anda dapat bermimpi ketemu dengan seseorang, melihat suatu peristiwa baik yang anda tahu maupun yang anda tidak pernah ketahui. Baik peristiwa masa lalu maupun masa yang akan datang.
Level berikutnya adalah level Theta (tidur lelap) di mana gelombang otak bergetar dengan kecepatan antara 4 sampai 7 siklus per detik. Pada level ini juga bisa terjadi mimpi tetapi tidak sepotensial pada situasi Alfa. Level berikut adalah level Delta (tidur sangat lelap) di mana gelombang otak bekerja kurang dari 4 siklus per detik. Pada level ini manusia benar-benar tidak mengingat apa-apa dan sama sekali tidak terjadi mimpi. 
Mengapa? Hal ini masih merupakan misteri bagi para ilmuwan. Perhatikan gambar gelombang otak di bawah ini:


Anda harus memulai persiapan pada saat anda sebelum tidur, program alam bawah sadar anda untuk bangun ketika pikiran anda sedang berhubungan dengan pikiran orang lain (your mind is in contact with the other person’s mind).


Gelombang Otak dapat juga digambarkan seperti ini:


Kedengarannya sangat sederhana, bukan?
Percobaan yang dilakukan di laboratorium selama bertahun-tahun  membuktikan bukan hanya metode ini terbukti berhasil, tetapi dalam beberapa kasus hasilnya sangat menakjubkan dan di luar nalar.

Dalam kenyataannya Subjective Communication begitu mudah untuk dilakukan dan anda tidak perlu memiliki pengalaman apa-apa sebelumnya untuk melakukan teknik ini. Masalahnya hanyalah anda harus terbangun pada hari subuh atau menjelang pagi untuk melakukan program komunikasi subyektif dan anda cenderung untuk kembali tertidur karena masih ngantuk sementara proses melakukan program ini berlangsung. 
Tapi jangan kuatir ada trik yang sederhana untuk mengatasi hal ini sekalipun anda masih pemula. Kami akan membahas hal ini pada bagian bawah.

Bahkan pada saat anda selesai membaca buku ini anda akan memiliki pengetahuan yang cukup untuk melalukan Subjective Communication. Dan anda akan lebih menguasainya jika anda melakukan beberapa kali latihan. Hanya dengan menggunakan metode ini  anda akan dapat merubah hidup anda menjadi lebih baik. Dan inilah yang sering disebut dengan magic process dari Subjective Communication. Dan memang itu kenyataannya.

Pada dasarnya Subjective Communication akan menolong anda untuk mendorong orang lain atau kelompok lain  baik yang dekat maupun yang berada jauh dari anda untuk melakukan sesuatu menurut keinginan anda. Tapi ingat bahwa permintaan itu harus menguntungkan kedua belah pihak. Maksudnya jika anda meminta mereka melakukan sesuatu mereka akan mendapatkan manfaatnya. Misalnya, ketika anda mempengaruhi pikiran orang lain supaya anda mendapat pekerjaan, katakan padanya bahwa jika anda bekerja di perusahaan mereka, perusahaan akan lebih maju, lebih menguntungkan, dll. 
Tetapi anda harus benar-benar yakin dengan apa yang anda katakan. Kalau tidak yakin usaha anda akan sia-sia. Misalnya, jika anda sedang mempromosikan suatu produk dan menggunakan teknik Subjective Communication anda harus memiliki keyakinan bahwa produk yang anda promosikan itu memiliki kualitas yang bagus menurut anda. Jika anda tidak yakin atau ragu-ragu maka ketidakyakinan atau keragu-raguan itu akan turut tertransfer dan hal ini akan merugikan anda.

Jadi salah satu syarat utama supaya Subjective Communication anda berhasil anda harus yakin akan kualitas anda, jasa atau produk yang anda promosikan atau apa saja yang anda lakukan. Karena keyakinan itu akan turut tertransfer ketika anda melakukan Subjective Communication. Jika anda melamar pekerjaan katakan bahwa anda memiliki semua qualifikasi yang dibutuhkan. Jika anda ingin mendapat pacar yang anda idam-idamkan katakan bahwa anda adalah orang yang tepat yang memenuhi semua kriteria pacar atau kekasih idaman. . . . dst.

Para kritik mengatakan bahwa ini adalah bentuk dari hypnotis jarak jauh, tapi tuduhan ini tidak benar. Karena Subjective Communication bukan hypnotis.
Hypnotis adalah tindakan satu arah di mana penghypnotis akan memberikan instruksi-instruksi yang sangat jelas secara sepihak. Sedangkan Subjective Communication adalah bentuk tersembunyi dari komunikasi dua arah antara pikiran  dan berita itu akan diterimahanya jika pihak yang menerima sepakat atau setuju dengan pesan yang dikirim.
Tetapi anda juga harus sadar bahwa teknik ini dapat disalahgunakan dan hal ini akan dibahas pada bagian akhir dari ebook ini supaya anda dapat mencegah untuk tidak dapat pakai untuk merugikan anda.

Penggunaan Subjective Communication secara benar tidak hanya akan mempengaruhi pikiran orang lain untuk menolong anda untuk menciptakan suatu even yang  luar biasa untuk anda dan semua hal yang terkait. Tetapi juga akan membentuk lingkungan anda dengan cara yang mungkin anda sendiri tidak dapat percayai. Karena hasilnya yang menakjubkan.

Mungkin anda tidak percaya. Tetapi di sini kita melihat pentingnya proses belajar. Jika anda praktek maka anda akan mengetahui bahwa pikiran anda memiliki kekuatan yang luar biasa dan kalau dipergunakan dengan benar akan mendatangkan keuntungan bagi anda.
Jika anda ingin mencapai sesuatu yang sangat penting dan membutuhkan orang lain untuk mewujudkannya dan sepertinya anda tidak berhasil dengan cara konvensional maka gunakanlah Subjective Communication untuk mendapatkan hasil yang maksimal bahkan hasil yang tidak terduga.  Biasanya hasilnya begitu cepat. Anda tidak memerlukan berminggu-minggu untuk mendapatkan hasilnya. @